cuplikan novel “SURAT UNTUK RUTH” by Bernard Batubara

Tahukah kamu, Ruth? Alasan mantan kekasihku berhubungan kembali dengan mantan kekasihnya ialah kerinduan. Dia rindu kehadiran. Begini katanya saat aku memutuskan hubungan kami : “aku tidak rindu mantanku, aku hanya merindukan momen-momen bersamanya. Kamu tidak ada di sini saat aku membutuhkanmu. Aku bingung dan membutuhkan seseorang. Dan, hanya dia yang terpikirkan olehku, maaf.”

Semua itu omong kosong, Ruth. Dia membutuhkan kehadiran, katanya? Sebulan sekali aku meluangkan waktu untuk pergi ke kotanya, Ruth. Dia memang pernah bilang di awal hubungan kami, dia tidak bisa dengan hubungan jarak jauh. Aku memahami hal tersebut, maka dari itu aku mencoba membiasakan dia, membantu dia menjalani hubungan jarak jauh itu dengan memenuhi permintaannya untuk menemui dia secara rutin. Aku pikir itu cukup. Tetapi ternyata tidak. Bagi dia, segala yang kulakukan tak pernah cukup.

***

Ada beberapa fase. Fase pertama yaitu fase perkenalan. Fase kedua adalah ketika aku mulai merasa ada sesuatu yang bergolak di dalam diriku setiap kali memikirkanmu (entah apakah kamu merasakan hal yang sama terhadapku). Fase ketiga adalah ketika aku dan kamu sudah menjadi sepasang kekasih. Dan pada waktu bersamaan, harus tidak lagi menjadi sepasang kekasih.

Kamu seperti pisau Victorinox, anggun dan cantik. Mengagumkan dan memukau dari luar. Namun, kamu memiliki banyak rahasia, seperti pisau Victorinix yang memiliki bagian banyak tersembunyi dalam dirinya. Bagian-bagian tersebut tidak bisa diungkap sekaligus. Seperti kamu, yang begitu tertutup dan jarang membuka diri kepada orang lain, termasuk kepadaku. Aku selalu merasa kamu menyimpan rapat-rapat pikiran dan perasaanmu untuk dirimu sendiri, yang semestinya, menurutku, bisa kamu bagikan atau ceritakan kepadaku. Dan kalaupun aku berusaha menguak hal-hal dalam dirimu, aku tidak pernah bisa mengungkap semuanya. Meskipun demikian, ada satu perbedaan mendasar antara dirimu dan pisau Victorinox. Pisau Victorinox sesungguhnya hanyalah teka-teki yang bisa diselesaikan. Tinggal mengikuti buku manual, seseorang akan dapat membuka semua bagian pisau lipat tersebut. Tetapi kamu, Ruth, kamu adalah misteri. Kamu tidak bisa diselesaikan ataupun diungkap sepenuhnya. Dan tidak ada buku manual yang disediakan untuk memahami dan mengungkap apa yang ada dalam dirimu.

Setidaknya, Ruth, setelah tidak lagi bersamaku, kamu masih bisa membaca surat ini. Agar kamu tahu bahwa lelaki yang hanya memiliki waktu sebentar untuk memilikimu ini sudah jatuh terlalu dalam ke laut hatimu. Meski lelaki ini tidak lagi bisa memilikimu, ia masih mencintaimu. Lelaki itu adalah aku. Dan meski kamu sudah pergi jauh meninggalkanku, aku masih mencintaimu.

***

Aku pun belum sempat bercerita kepada mereka tentang kamu dan kita, Ruth. Apakah kamu pernah bercerita kepada orangtua mu tentang aku? Tentang kita?

Pada satu titik, cinta akan habis tergerus, dan yang tersisa adalah sayang. Itu konsep yang aku reka-reka sendiri. Cinta, menurutku, adalah hasrat untuk memiliki. Sementara “sayang” adalah keinginan untuk menjaga. Pada kondisi yang tidak bisa ku jelaskan, sayang berada pada pengertian yang lebih serius daripada cinta. Cinta sesaat, sayang selamanya. Cinta liar dan berapi-api, sayang tenang bagai air. Cinta menggebu-gebu, sayang cenderung meredam.

“Menurutku, cinta itu mitos” dan sayang? Entahlah. Aku pernah menjalani hubungan dengan seseorang selama dua tahun, dan aku hanya memiliki perasaan terhadapnya pada tiga bulan pertama. Aku tidak lagi merasa sayang padanya, dan tiga bulan pertama itu pun aku tidak yakin apakah yang kurasakan terhadapnya benar-benar perasaan sayang.”

“Lalu mengapa kamu bertahan?”

            “Karena aku merasa harus.”

            “Karena kamu kasihan?”

            “Aku tidak kasihan.”

            “Kalau sudah tidak sayang, mengapa tidak kamu tinggalkan saja?”

            “Karena dia masih sayang kepadaku.”

            “Lalu mengapa kamu masih bertahan dengannya selama satu tahu sembilan bulan tanpa perasaan sayang? Kamu memberi pacarmu sendiri harapan palsu”

            “Aku tidak memberi harapan palsu.”

            “Menurutmu, apa yang kamu lakukan itu?”

            “Aku tidak punya alasan untuk meninggalkannya.”

            “Kamu bilang sudah tidak sayang padanya lagi. Itu kan alasan.”

            “Meninggalkan seseorang karena sudah tidak sayang lagi menurutku adalah tindakan yang tidak pantas dilakukan.”

            “Begitukah? Lalu, kalau bukan itu, alasan apa yang pantas untuk meninggalkan seseorang?”

            “Entah, makanya aku masih bertahan dengan dia. Aku tidak menemukan alasan untuk meninggalkannya.”

            “Kamu sudah melakukan tindakan yang lebih jahat daripada meninggalkannya. Kamu bertahan dengannya tanpa rasa sayang. Sementara, dia sayang kepadamu, dan dia pasti mengira kamu masih menyayanginya.”

***

Keindahan yang tak pernah bisa aku pahami dari mana datangnya. “Keindahan yang misterius”

***

Kami ditakdirkan untuk tidak bersama. Walau kami mungkin bisa saling cinta.

Setelah mendengar kalimat itu, tiba-tiba aku berpikir begini: bagaimana bisa seseorang diberi kesempatan dan kemungkinan untuk saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak pernah bersama? Bukankah itu tidak adil dan sangat nonsens? Kasta, agama, strata sosial dan ekonomi, tidakkah semua orang setuju bahwa sesuatu bernama cinta memiliki energi yang lebih besar daripada hal-hal itu? Ataukah kenyataannya tidak demikian? Siapa yang berkuasa atas takdir; Tuhan? Lalu mengapa Tuhan menakdirkan si A dan si B tidak bersama, tetapi memberi sejoli itu kesempatan dan kemungkinan untuk saling jatuh cinta? Bukankah itu berarti Tuhan juga melakukan hal yang tidak adil dan sangan nonsens?

Jika memang begitu, apa pertanggungjawaban Tuhan yang telah menciptakan takdir? Apa yang ia lakukan untuk menyembuhkan sepasang hati yang, karena takdir, tidak bisa bersama? Apakah hikmah, jikapun ada, yang bisa Dia sampaikan kepada dua orang yang telah jatuh terlalu dalam namun harus menerima takdir bahwa pada akhirnya mereka harus berpisah? Aku sungguh tidak mengerti perihal takdir.

***

Tidak ada yang namanya kebetulan…

***

Mari kita duduk dan bicara sebentar. Bagimu, Ruth, apakah arti sebuah penantian? Apakah penantian sebuah bentuk kesetiaan? Ataukah berarti sikap yang menunjukkan kebodohan? Bagiku, mungkin keduanya. Tapi bagimu sendiri, Ruth, apakah arti sebuah penantian?

Ruth, aku menulis catatan ini sebagai bagian dari penantianku. Apa yang ku nanti, sebenarnya? Tidak lain adalah kesempatan untuk bertemu lagi denganmu. Aku tahu mungkin yang aku harapkan adalah sebuah kemustahilan, atau barangkali keajaiban. Dan seperti banyak keajaiban, ia tak terjadi manakala kita sangat mengharapkannya.

Apakah kamu melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan? Apa kamu juga menunggu kesempatan itu? Apa kamu juga menanti untuk bertemu lagi denganku? Tahukah kamu, Ruth, cahaya yang dipancarkan bintang-bintang adalah cahaya yang berasal dari masa lalu? Artinya, pada saat aku atau kamu melihatnya, bintang-bintang itu sudah lama tidak ada disana. Mereka sudah mati. Mereka adalah masa lalu. Seperti kamu dan aku.

***

Sungguh aku tidak tahan dengan orang yang denial. Kamu tahu itu, Ruth? Mengapa tidak mengakui saja bahwa ia akan sakit hati melihat wanita yang disayanginya menyukai orang lain. Apa salahnya mengakui perasaan sendiri, kalau ia memang nyata? Mengapa harus membohongi diri sendiri? Apakah ia ingin terlihat sebagai orang yang kuat? Aku malah melihat orang-orang yang membohongi perasaannya sendiri sebagai orang-orang yang konyol.

***

“Menurutmu, apakah hubungan yang dijalani dua orang bisa diakhiri oleh hanya satu orang?”

            “Aku tidak tahu. Mungkin saja bisa. Memangnya kenapa?”

            “Jika aku yang mengakhiri, tapi dia tidak mengakhiri, apakah itu berarti hubungan kami sudah berakhir?”

            “Kurasa begitu.”

***

How do you feel?”

            “Well, again… about what?”

            “About anything, everything.”

            “About us?”

***

Aku menggenggam tanganmu. Terasa hangat seakan di rasuki senja yang sedari tadi menyaksikan kita dari langit sana. Senja yang sama indahnya dengan senja pertama yang kulihat saat bertemu dan mengenal seorang perempuan bernama Ruthefia Milana. Perempuan yang aku cintai.

***

Pada saat itu, aku tahu ada yang sedang sangat menguasai pikiranmu. Agar kamu terus berbicara, aku memancingmu dengan pertanyaan-pertanyaan ringan. Aku tidak bisa melihatmu diam. Diam milikmu itu terkadang membuatku merasa sedang berhadap-hadapan dengan pembunuh berdarah dingin yang tak bisa ku tebak isi pikirannya, dan aku hanya bisa berpikir bahwa suatu waktu ia akan menancapkan sebilah pisau dileherku.

Kamu selalu punya cara untuk membangun tamengmu sendiri. Kamu selalu menghindar dari pertanyaan-pertanyaanku, terutama untuk hal-hal semacam ini: “perasaan”. Tidak bisakah kamu sedikit saja percaya padaku dan menceritakan apa yang kamu pikirkan dan apa yang kamu rasakan kepadaku, Ruth?

***

“Are, maaf.”

            “Untuk apa?”

            “Maaf, aku tidak selalu bisa bercerita kepadamu.”

            “Tidak apa-apa. Aku juga tidak pernah memaksa.”

            “Are, kamu pernah merasakan dicintai?”

            “Tentu saja pernah”

            “Bagaimana rasanya?”

            “Indah.”                    

            “Tidak selalu indah, Re.”

            “Kok bisa?”

            “Dicintai oleh seseorang, tetapi kamu tidak bisa mencintai orang itu. Itu tidak indah.”

            “Kalau begitu, belajarlah mencintai orang yang mencintaimu.”

            “Aku tidak bisa.”

            “Kenapa tidak bisa?”

            “Kamu tahu tidak, Re? Cinta itu membebani.”

            “Aku tidak pernah berpikir bahwa cinta itu membebani.”

            “Menurutmu, kenapa ada orang yang bersikeras mencintai orang yang tidak mencintainya?”

            “Mungkin karena orang itu bebal saja. Untuk apa memberikan hati kepada orang yang tidak menginginkannya?”

            “Berarti selain membebani, cinta itu juga membuat orang jadi bebal?”

            “Aku tidak bilang begitu.” Kamu suka sembarang mengambil kesimpulan tanpa menguraikannya terlebih dahulu.

Tapi, mungkin saja yang kamu katakan itu benar. Cinta bisa membuat seseorang menjadi bebal. Bahkan pada tahap tertentu, membuat seseorang menjadi delusional. Saking jatuh terlalu dalam, seseorang bisa saja mencintai orang yang tidak mencintai dirinya.

***

Begitulah. Pencarian yang tidak kunjung menemukan, akhirnya berujung pada satu titik lelah. Namun, disaat lelah dan tidak lagi hendak meneruskan pencarian, terkadang kita justru diberi kejutan: sebuah penemuan yang lebih menyenangkan. Kesimpulannya, Ruth: disaat kita tidak lagi mencari, disitulah kita akan menemukan.

“aku boleh bicara sesuatu, Re?”

            “Banyak suatu pun aku senang, Ruth.”

            “Kamu ingin membawa hubungan ini ke mana?”

            “Maksudmu, ke jenjang mana? Pernikahan, tentu saja.”

            “Bagaimana kalau kubilang, aku tidak bisa?”

            “maksudnya bagaimana, Ruth?”

            “Aku tidak bisa meneruskan ini.”

Lalu kamu menceritakan semuanya…

Selama dua tahun kamu menjalin hubungan dengan orang lain. Dua tahun yang bagimu hanyalah tiga bulan. Sebab selepas bulan ketiga, kamu tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapnya. Namun, kamu tetap bertahan hingga hubungan itu terus berjalan selama dua tahun. Pada akhirnya, kamu bisa melepaskan diri darinya. Kamu memutuskan untuk berpisah darinya dan menjelaskan dengan terus terang bahwa kamu tidak menyayanginya. Dia merelakanmu, dengan syarat kamu harus bahagia.

Rasanya sulit untuk mengucapkan kata sayang. Aku merasa bahwa kata tersebut sakral. Dan karena ia sakral, ia tidak boleh sembarang diucapkan. Maka ketika aku belum yakin dengan perasaanku kepadamu, Ruth, aku tidak mengucapkannya. Tapi ketika pada akhirnya aku mengucapkan kepadamu, itu berarti aku betul-betul menginginkanmu, aku benar-benar menyayangimu, dan tidak ingin kehilanganmu

“Are, Aku sayang kamu.”

Ironis. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku. Aku tidak menjawab apa pun saat kamu mengucapkan kalimat itu. Aku tidak tahu, apakah harus merasa senang atau kecewa.

Lagi pula, apa gunanya kamu mengucapkan itu, jika kamu tidak lagi bisa bersamaku?

Hubungan kita yang harus segera diakhiri.

Aku ulangi sekali lagi. Harus diakhiri.

Entah bagaimana sepasang hati bisa berjuang di bawah keadaan yang memaksa mereka harus berpisah. Aku harus menarik diri darimu dan kamu harus menarik diri dariku. Aku harus melepaskanmu dan kamu pun harus melepaskanku. Tiba-tiba saja, aku dan kamu harus menahan diri dari hal yang membuat kita bahagia. Tiba-tiba saja, aku dan kamu harus membunuh rasa yang ada didalam dada kita masing-masing.

Bagaimana mungkin kita bisa melakukannya, Ruth?

Apa kamu bisa melakukannya?

Siapa yang merasa siap dengan perpisahan? Jika ada seseorang yang berkata kepadamu bahwa dia siap untuk berpisah dengan orang yang dia cintai, maka aku akan berkata kepadanya bahwa aku adalah anak kandung presiden Amerika.

Aku butuh distraksi dari semua yang serba tiba-tiba ini, Ruth.

Aku tidak tahu bagaimana cara menangani ini.

***

“Kamu tahu apa asyiknya menonton film?”

“Apa?”

“Karena saat menonton film, semua masalah hidupku merasa lenyap. Aku hanya fokus pada apa yang terlihat di layar, tenggelam dalam setiap adegan, dan melupakan hal lain di luar itu. Meski kebahagiaan menonton film hanya berlangsung selama dua jam, aku merasa cukup.”

Ya. Sebab kita tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita mau. Meski hanya sementara, sebentar, kebahagiaan tetaplah kebahagiaan. Seperti sesuatu yang kamu rasakan saat menonton film dan sesuatu yang ku rasakan saat memotret. Perasaan tersebut mungkin hanya sementara. Namun, tetap saja hal yang sementara itu adalah sesuatu yang nyata adanya.

Bukan begitu, Ruth?

Seperti apa yang terjadi di antara aku dan kamu.

Kebahagiaan kita hanya sementara.

Kebahagiaan kita hanya sebentar.

“Bagaimana aku bisa melupakan kenyataan bahwa kita tidak bisa bertemu lagi?”

***

Terdengar sebuah lagu…

If you were falling, then I would catch you

            You need a light, I’d find a match

            ‘Cause I love the way you say good morning

            And you take me the way I am

“Lalu, bagian mana yang membuatmu teringat kepadaku?”

’Cause I love the way you say good morning… Kamu selalu mengucapkan selamat pagi untukku. Saat mendengar lagu tadi, aku teringat kamu.”

Aku tidak menyangka kamu mengingat hal sepele seperti itu. Dan yang lebih tidak kusangka, kamu mengutarakannya kepadaku. Berkata kepadaku: “There’s a song that reminds me of you.” Aku rasa, itu hal paling manis yang pernah kamu lakukan untukku.

“Tidak adakah yang bisa kita lakukan, Ruth?”

***

Aku membuka galeri foto, lalu melihat-lihat hasil jepretanku. Sebuah gambar cukup mengagetkanku : potret langit biru segar yang terhalau ranting-ranting kurus dari pohon tua. Pohon yang menjadi objek pertama yang menarik perhatianku. Diantara semua foto yang ku ambil, itu satu-satunya foto yang blur. Dan anehnya juga, ternyata kamu menyukainya.

Karena kamu menyukainya, aku jadi memberi perhatian lebih pada foto itu. Pemandangan potongan langit biru segar yang terang dan bersih yang terhalau ranting-ranting kurus dari tubuh pohon tua. Aku melihatnya seperti keindahan yang bersanding dengan simbol waktu yang diwakili oleh ranting-ranting kering pohon tua itu. Tanda bahwa hanya dengan bersabar, pada akhirnya, kita akan menemukan keindahan.

Potret yang blur itu pun mungkin seolah menunjukkan bahwa begitulah memang sebenarnya kehidupan, samar dan tidak sempurna. Begitu pulalah hubunganku denganmu, Ruth. Tidak sempurna. Tidak in focus. Blur. Namun, justru hal-hal tersebut yang membuat kita saling tertarik dan mencoba untuk bertahan. Sebab begitulah kesempurnaan, Ruth. Kesempurnaan terbentuk dari hal-hal yang tidak sempurna.

Aku masih menyangkal ketidakadilan yang kurasakan. Tapi aku pun tidak tahu harus berbuat apa. Aku merasa, kamulah yang harus berbuat sesuatu. Tetapi kamu sendiri telah membuat prioritas.

Mengorbankan kebahagiaan sejati demi kebahagiaan yang dibentuk dan dipaksakan. Bukankah itu tidak adil?

Entahlah, Ruth. Bagaimana menurutmu?

Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya. Mungkin masih terlalu dini untuk mencari jalan keluar. Kepala kita, aku dan kamu, masih terlalu keruh dan dipenuhi ketakutan dan kebingungan. Kita belum bisa berpikir dan menyelesaikan permasalahan ini dengan jernih. Mungkin kita harus memberi jalan kepada waktu. Semoga, pada akhirnya kita menemukan keindahan. Seperti membiarkan pohon tumbuh hi8ngga tua dan rantingnya mengering untuk mendapatkan langit biru yang bersih dan segar. Seperti kesempurnaan yang muncul dari ketidaksempurnaan.

***

“Are, kamu tidak apa-apa? Kata Ayudita.”

            “Aku tahu semuanya. Ruth cerita kepadaku.”

***

“Aku mencintainya. Aku mencintai Are…”

Ayudita terkejut melihat Ruth tiba-tiba saja menangis. Tubuh perempuan itu gemetar hebat sehingga Ayudita merasa perlu menenangkannya. Sesaat, Ayudita kaget merasakan gurat-gurat kasar pada tangan Ruth.

“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku mencintai Are. Aku tidak ingin menikah dengan orang lain.”

Ayudita masih memperhatikan goresan-goresan pada punggung tangan Ruth, seperti bekas luka sayatan benda tajam.

“Ruth, tenanglah.”

            “Aku tidak mau kehilangan Are. Aku tidak tahu… Aku tidak tahu harus bagaimana…”

“kamu tidak harus melakukan itu, Ruth. Kamu tidak harus menikah, kalau memang tidak mau. Meski kamu menikah, kamu tidak akan bahagia karena itu bukan keinginanmu. Kebahagiaan tidak didapatkan dengan menuruti keinginan orang lain, kebahagiaan tidak didapatkan dengan cara seperti itu.”

“Ruth, tangan kamu kenapa?”

“Mungkin kamu sedang mengalami masalah yang begitu berat. Tapi jangan lakukan hal-hal bodoh, Ruth. Aku sangat mengenal goresan semacam itu, karena di masa lalu aku pun pernah melakukannya.”

“Tidak perlu heran. Aku juga seperti kamu, dulu. Setiap orang punya masalah. Aku menyimpan semuanya sendiri, tidak bisa bercerita kepada siapa-siapa, mengira masalah-masalahku bisa hilang dengan sendirinya. Tapi, ternyata aku keliru. Semakin lama kepalaku semakin terasa berat. Aku tidak bisa tidur. Sesuatu didalam sini (Ayudita menunjuk dadanmya sendiri), “seperti racun yang tidak bisa ku keluarkan, dan mereka beranak-pinak disana, memakan diriku dari dalam.”

“Akhirnya, pelarianku adalah dengan menyakiti diri sendiri, karena aku tidak sanggup menyakiti orang lain. Aku mengambil silet, membawanya ke kamar mandi, dan menggores pahaku. Satu garis demi satu garis, setiap garisnya sepanjang 7cm. Ya, aku mengukurnya. Tujuh adalah tanggal kelahiranku.”

“Saat aku melakukannya, anehnya aku merasa nyaman dan tak merasakan sakit sedikit pun. Tapi belakangan aku tahu itu bukan hal yang benar. Tak satu pun masalahku selesai dengan cara itu. Satu pun tidak. Jadi, kupikir, apa gunanya? Maka aku belajar menerima masalah-masalah itu sebagai bagian dari kehidupan dan mencoba mencari jalan lain untuk menyelesaikannya.”

***

“Tapi, setidaknya kamu tahu, Are, bahwa Ruth mencintai kamu. Itu kan, yang penting?”

            “Apa gunanya mengetahui dia mencintaiku dan aku mencintainya, kalau pada akhirnya kami tidak bisa bersama?”

***

Mungkin kamu belum atau sudah merasakan juga betapa sulitnya meninggalkan masa lalu, meski ia sebenarnya sudah berada pada posisi yang tertinggal. Ia, masa lalu itu, seperti momen yang terperangkap dalam selembar potret, memiliki tempat dan kehidupan pada rentang waktu yang telah lewat. Tetapi bagiku, Ruth, masa yang telah lewat itu masih berjalan mengiringi ringkihnya langkahku menunggumu

Tidak ada korelasi positif antara durasi sebuah pertemuan dengan mudah-tidaknya melupakan atau meninggalkan kenangan dan ingatan yang tersisa ketika pertemuan tersebut berakhir. Seperti ingatanku kepada segala yang telah kita lakukan bersama.

“I’m afraid that we can’t anymore. Sorry.” Begitu pesan terakhir yang ku terima darimu.

Kamu tahu, Ruth, hidup ini penuh dengan kejutan. Aku sendiri tidak bisa membayangkan. Bahagia melepas orang yang kamu cintai, bagaimana bisa? Bisa bahagia melihat seorang yang kamu cintai bahagia. Dan itu omong kosong paling buruk yang pernah ku dengar seumur hidupku.

Percayakah kamu pada takdir, Ruth?

Bli Nugraha percaya bahwa jika ia melepas Ayudita dengan ikhlas, Tuhan akan memberinya seseorang yang bisa membuatnya lebih bahagia. Bagaimana menurutmu, Ruth? Apakah aku harus melepasmu untuk melihatmu bahagia dengan orang lain, agar aku bisa meraih kebahagiaanku dengan seseorang yang lebih baik, yang diberikan oleh Tuhan sebagai penggantimu?

Aku masih merasa itu mustahil. Namun, tampaknya aku harus mulai menerima takdir bahwa aku dan kamu ditakdirkan untuk saling melepaskan.

***

Ruth, aku punya beberapa pertanyaan yang ingin ku ajukan kepadamu, setelah kamu harus menjadi kita yang lain dan aku terpaksa mencari kita yang baru.

  1. Apakah kamu masih mencintaiku?
  2. Ada lagu yang mengingatkanmu tentang aku yang selalu mengucapkan selamat pagi kepadamu. Apakah kamu masih menginginkan ucapan itu? Ucapan selamat pagi dariku?
  3. Masih ingatkah kamu kapan dan dimana dan bagaimana aku dan kamu pertama kali bertemu?
  4. Masih ingatkah kamu kapan dan dimana dan bagaimana terjadinya ciuman pertama kita?
  5. Tidak apa-apa jika aku bertanya tentang apakah kamu ingat ini dan itu tentang kita?
  6. Apakah kamu merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan saat kita pertama kali bertemu?
  7. Apakah kamu masih menyimpan pemberianku untuk ulang tahunmu?
  8. Apakah kamu bahagia denganku?
  9. Adakah yang salah dari caraku mencintaimu?
  10. Apakah kamu pernah sekadar membayangkan bagaimana seandainya aku dan kamu menikah?
  11. Jika aku dan kamu menikah, anak-anak kita akan lebih mirip aku atau kamu?
  12. Apakah di waktu mendatang aku dan kamu masih bisa bertemu?
  13. Jika aku sudah mendapatkan kita yang baru, apakah kamu akan cemburu?
  14. Jika kamu sudah menjadi kita yang lain, apakah kamu akan mencintai dia lebih daripada kamu mencintaiku?
  15. Apakah hatimu terluka saat ini?
  16. Jika kamu pergi ke tempat-tempat yang pernah aku dan kamu datangi bersama, apakah kamu akan teringat padaku?
  17. Apakah kamu masih memimpikanku?
  18. Apakah kamu masih mengharapkan pesan singkat di sepanjang hari atau telepon tengah malam dariku?
  19. Apakah kamu masih menyimpan rapi ingatan tentang aku?
  20. Apa yang kamu rasakan saat ini?
  21. Apakah kamu akan menghubungiku terlebih dahulu jika aku tidak lagi menghubungiku? Apakah kamu masih akan mencariku?
  22. Apakah kamu akan menceritakan kepada anak-anakmu yang lucu nanti cerita tentang kita?
  23. Apakah aku akan jadi suami yang baik untuk pasanganku, jika ia bukanlah kamu?
  24. Apakah aku akan mendapatkan kamu yang lebih baik, atau sama, atau bahkan tidak lebih baik daripada kamu?
  25. Apakah kamu masih menginginkan aku?
  26. Apakah kamu akan tetap menyimpan foto-foto kita?
  27. Apakah kamu mengenang aku seperti aku mengenangmu?
  28. Apakah kamu akan segera melupakan aku?
  29. Apakah kamu menyesal bertemu denganku?
  30. Apakah kamu akan merindukan kita?

***

Bli Nugraha bilang, menulis daftar tersebut membantunya melepaskan kenangan tentang Ayudita. Maka inilah yang hari ini aku lakukan, Ruth: menulis daftar tentang hal-hal yang harus aku syukuri setelah kamu pergi.

  1. Terima kasih sudah mencintaiku
  2. Terima kasih sudah mengungkapkan bahwa kamu mencintaiku
  3. Terima kasih sudah mengirim pesan selamat tidur kepadaku setiap malam
  4. Terima kasih sudah membuatku tersenyum dengan ucapan selamat pagi setiap aku terbangun keesokan harinya
  5. Terima kasih sudah bersedia untuk aku cintai
  6. Terima kasih untuk setiap pelukan. Baik itu yang sebentar maupun yang lama. (tapi lebih sering yang lama).
  7. Terima kasih untuk setiap kecupan. Di pipi, di bibir, di mana pun yang pernah kita lakukan.
  8. Terima kasih telah membawaku ke tempat-tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya.
  9. Terima kasih untuk perjalanan dan pengalaman yang tidak terlupakan
  10. Terima kasih untuk kenangan yang manis
  11. Terima kasih untuk waktu yang sudah kamu berikan
  12. Terima kasih sudah memperhatikan kesehatanku
  13. Terima kasih sudah menunggu
  14. Terima kasih sudah menyediakan waktu untukku meski kamu sudah tidak lagi boleh menyediakan waktu untukku
  15. Terima kasih untuk kesabaramu menghadapiku
  16. Terima kasih untuk setiap percakapan tengah malam yang selalu membuatku tidur larut
  17. Terima kasih untuk pemberian yang sekarang (dan nanti akan tetap) aku kenakan
  18. Terima kasih untuk lagu-lagu kesukaanmu yang kamu bilang mengingatkanmu kepadaku
  19. Terima kasih untuk hari-hari yang menyenangkan
  20. Terima kasih untuk khayalan-khayalan masa depan yang sering kita tertawakan
  21. Terima kasih sudah mendengarkanku berbicara
  22. Terima kasih sudah membuatku merasa dibutuhkan
  23. Terima kasih sudah mencoba untuk bertahan
  24. Terima kasih sudah memberiku kesempatan
  25. Terima kasih untuk setiap kemesraan
  26. Terima kasih untuk tetap ada
  27. Terima kasih atas semua hal yang membuatku berterima kasih
  28. Terima kasih untuk setiap mimpi-mimpi
  29. Terima kasih sudah memulai
  30. Terima kasih sudah mengakhiri

Kamu tahu, Ruth, kegiatan menulis daftar ini ternyata memang menyenangkan. Semenjak Bli Nugraha menularkan kebiasaan menulis daftar tentang macam-macam hal kepadaku, yang ku pikirkan setiap bangun di pagi hari hanyalah daftar apa lagi yang ingin ku buat hari ini. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk mengalihkan pikiranku mengenai hari pernikahanmu.

Demi mengenang Ayudita yang kini telah menjadi calon istri lelaki lain, penyair dari Bali itu menulis semacam memoar untuk perempuan yang ia cintai itu. Ia menulis catatan perjalanannya dengan Ayudita, mulai dari pertemuan hingga perpisahan mereka. Ia bilang itu membantunya melepaskan kenangan masa lalu yang sebelumnya ia genggam erat dan ternyata lambat laun malah membebani pikiran dan perasaannya, membuatnya lelah dan semakin sakit. Ia belakangan sadar, rasa sakit bisa menghilang bukan dengan cara menyangkalnya, tetapi justru dengan menerimanya dan mengalirkannya ke tempat lain. Ia memilih untuk menulis memoar.

Masihkah ada kita, Ruth?

***

Kenangan itu keparat, Ruth. Ia tidak akan berhenti menyerang kepalamu, bahkan semakin beringas tepat pada saat kamu berusaha untuk melupakannya. Tiba-tiba saja pagi ini aku terbangun karena kepalaku seperti dihantam serangan-serangan itu. Bayanganmu berkelebatan di benakku, Ruth. Maka, seperti yang biasa kulakukan setiap pagi, aku melakukan ritual melepaskan luka, menulis sebuah daftar. Kuberi nama daftar itu “30 hal kecil tentang dirimu”.

  1. Dulu semasa sekolah dan awal kuliah kamu sangat tomboi. Sekarang kamu sudah bisa merias wajah dan bisa lebih menjadi seorang perempuan.
  2. Kamu tidak ingin sering-sering makan ayam
  3. Kamu tidak suka makan di mall
  4. Kamu suka sepatu putih bulukmu, karena saat memakainya kamu merasa seperti tidak sedang mengenakan sepatu. Ringan sekali, kamu bilang
  5. Kamu ingin kursus menjahit dan ikut latihan parkour
  6. Kamu memiliki sepasang mata yang warnanya sama seperti mataku.
  7. Gigimu bergemelutuk saat kamu tidur. Dan suara gemelutuknya semakin nyaring jika kamu sedang sangat lelah.
  8. Kamu suka menggaruk dan mencabuti permukaan sablon di kausku
  9. Kamu suka menusuk-nusukkan jarum pada styrofoam. Bunyi yang disebabkannya terdengar enak, katamu.
  10. Kamu hanya mau diajak foto berdua jika sedang berada di tempat yang bagus. Seperti di atas candi atau di pantai yang sepi.
  11. Keadaan sulit buang air besar lebih sanggup membuatmu galau ketimbang patah hati
  12. Kamu sangat suka jalan-jalan
  13. Kamu bisa menghabiskan waktu berlama-lama di bawah kucuran air panas saat mandi, dan demam setelahnya.
  14. Kamu tidak suka makan daging
  15. Kamu malas mencuci pakaian
  16. Alismu sangat tebal dan hidungmu kecil
  17. Kamu gundah saat akan menghadiri wisudamu sendiri, sebab wajahmu harus dirias dan alismu terpaksa dicukur. Kamu tidak suka alismu dicukur.
  18. Kamu bicara bahasa Inggris dengan aksen british
  19. Kamu tidak suka dipanggil cantik. Meski, aku berani sumpah, kamu memang cantik.
  20. Kamu selalu membawa permen karet di dalam tasmu. Selalu permen karet dengan merek yang sama
  21. Kamu tidak suka dilihat atau diperhatikan saat sedang memakai eyeliner. Kamu bilang itu akan mengganggu konsentrasimu
  22. Kamu sering sit-up sebelum tidur. Maka dari itu perutmu lebih rata daripada perutku
  23. Kamu tidak bisa tidur dengan posisi telentang
  24. Kamu jarang mengepel kamarmu. (Kalau ini kita sama. Hahaha!)
  25. Kamu tidak suka mengeringkan badan dengan handuk setelah mandi. Kamu membiarkan ia kering dengan sendirinya.
  26. Kamu selalu menarik tanganku untuk memelukmu dari belakang jika aku lupa. Kamu tidak nyaman tidur tanpa itu, katamu.
  27. Kamu suka makan snack yang mereknya tidak terkenal
  28. Kamu sulit sekali dibikin cemburu. (aku sampai pernah berencana untuk sengaja membuat cemburu dengan intens berkomunikasi dengan Ayudita, namun rencana itu gagal).
  29. Suaramu sebenarnya agak cempreng (tapi aku suka)
  30. Kamu senang berjalan kaki

Untuk Are

Areno Adamar

Maafkan aku, Are. Aku tidak pernah bisa mengungkapkan perasaanku kepadamu. Kamu selalu kesal aku tidak pernah membalas ucapan sayangmu kepadaku. Meski kamu pasti tahu bahwa aku mencintaimu.

Aku menerima surat-suratmu. Memoar yang kamu tulis semenjak kita tidak pernah dan tidak bisa bertemu lagi. Maaf aku tidak bisa membalasnya. Karena kamu pasti tahu sebabnya.

Tapi, Are, sebenarnya aku sempat menulis sesuatu untukmu. Daftar-daftar yang kamu kirim untukku itu sungguh menyentuh. Bagian lain yang berisi catatan perjalanan kita tentu saja juga menyentuh dan membangkitkan kembali kenangan tentang kita, tetapi daftar-daftar itu lebih membuatku bersedih.

Maka aku juga menulis sebuah daftar untukmu. Daftar yang tidak pernah kukirim atau kutunjukkan kepadamu. Aku meniru caramu menulis daftar dan bagaimana kamu memberinya judul. Daftar ini kuberi judul…

            “30 hal atau lebih yang menjadi kesalahanku sebelum dan saat aku dan kamu menjadi kita dan setelah tidak lagi menjadi kita”

  1. Maaf aku terlambat menemukanmu
  2. Maaf aku membutuhkan waktu terlalu lama untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu
  3. Maaf aku pernah angkuh berkata dalam hati bahwa aku tidak membutuhkanmu, padahal kenyataannya adalah sebaliknya
  4. Maaf aku pernah menyakitimu
  5. Maaf aku tidak bisa memberikan yang terbaik kepadamu
  6. Maaf untuk kesalahanku yang sangat banyak
  7. Maaf untuk ketidaksempurnaanku dalam mencintaimu
  8. Maaf untuk semua rencana kita yang telah gagal
  9. Maaf untuk cintaku yang menyakitimu
  10. Maaf aku tidak bisa melupakanmu
  11. Maaf aku masih mencarimu
  12. Maaf aku masih mengharapkanmu
  13. Maaf aku menganggap kamu masih bagian dari kita
  14. Maaf untuk segala kenangan dan ingatan tentang kita
  15. Maaf untuk kebersamaan yang begitu singkat
  16. Maaf untuk setiap luka yang masih melekat
  17. Maaf untuk segala harapanku yang maish ingin bertemu denganmu saat aku dan kamu sudah tidak lagi sebagai kita
  18. Maaf aku masih menutup hati ini untuk orang lain karena mengira suatu saat kamu akan kembali
  19. Maaf untuk setiap cemburuku pada orang-orang yang bisa berada dekat denganmu
  20. Maaf untuk setiap permintaan maafku kepadamu
  21. Maaf aku tidak bisa menghilangkan perasaanku kepadamu begitu saja
  22. Maaf aku masih saja berusaha untuk mencari kesempatan bertemu denganmu meski kamu tak ingin lagi
  23. Maaf aku mencintaimu sebesar ini
  24. Maaf untuk perasaanku kepadamu yang sudah sedalam ini
  25. Maaf telah hadir dalam hidupmu dan mengacaukan segalanya
  26. Maaf aku gagal membuatmu bahagia
  27. Maaf untuk ketidakrelaan dan ketidakihklasanku melepaskanmu
  28. Maaf untuk setiap hari yang masih kuhabiskan dengan memikirkanmu meski kamu tidak lagi memikirkanku
  29. Maaf untuk setiap rindu ini yang masih saja untukmu bahkan setelah kamu jauh pergi
  30. Maaf, aku masih ingin kamu kembali

 

Bagaimana, cukup mengharukan, kan? Tentu masih kalah dengan memoarmu yang begitu panjang. Saking panjangnya, aku sampai berpikir, mengapa tidak kamu kumpulkan saja jadi sebuah buku dan kamu terbitkan? Pasti akan jadi novel yang sangat menarik. Aku lebih suka dongeng sih, tapi aku tidak keberatan membaca novel yang kamu tulis.

Aku tidak ingin menikah dengan dia. Aku lari dari acara pernikahanku. Aku tahu perbuatanku akan melukai Mama, dia, dan banyak orang. Tetapi, yang terpikir olehku saat ini hanyalah kamu. Aku sudah melukaimu. Aku bahkan melukai diriku sendiri.

Are, aku ingin bertemu denganmu. Aku akan terus menunggu di sini, berharap akan melihatmu lagi.

Aku mencintaimu.

 

Ps: senja hari ini indah sekali. Kurasa, ini senja paling indah yang pernah kulihat selama hidupku. Aku berkhayal menyaksikan senja ini bersamamu.

            Are, dimana kamu?

 

Ruthefia Milana

Semoga dengan membaca cuplikan isi novel “Surat untuk Ruth” para pembaca mendapatkan sebuah inspirasi untuk mengatasi rasa kehilangan dengan cara membuat sebuah memoar. Menurut saya, cara ini cukup ampuh menyalurkan apa yang ada dihati pembaca terhadap apa yang anda cintai. Karena dengan menulis apa yang anda rasakan, bisa meringankan pikiran pembaca ketimbang melakukan sesuatu hal yang dapat melukai diri Anda sendiri. Karena tidak semua hal dapat diceritakan dan diucapkan dengan kata kepada teman curhat anda.

Bertindaklah dengan cerdas, seseorang yang tulus menyayangi anda akan memperjuangkan apa yang disayanginya. Tapi ingatlah, ketika apa yang anda lakukan tidak pernah dihargai maka bertahanlah semampu dirimu dan pergilah ketika kamu sudah tidak sanggup. Cintamu adalah kuatmu, tapi jika kuatmu tidak dihargai maka pergilah. Gbu… :’)

Sumber : Batubara, Bernard. 2014. Surat untuk Ruth. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s