Sejarah Kota Pekanbaru

            Jauh sebelum nama Pekanbaru dikenal sebagai ibu kota Provinsi Riau dengan segala aktivitas dalam fungsinya yang kompleks, sebagaimana lazimnya sebuah kota, pertumbuhan Pekanbaru melalui kurun waktu yang sangat panjang. Bermula dari sebuah tempat-tempat pemukiman dipinggiran sungai siak yang disebut “payung sekaki”, dusun ini dibuka oleh Suku “Senapelan”, maka dusun tersebut dikenal dengan nama Senapelan. Senapelan semakin berkembang sehingga menjadi saingan bagi daerah sekitarnya, terutama Petapahan yang merupakan tempat persinggahan para pedagang pada waktu itu. Daerah Senapelan pada masa itu dipimpin oleh seorang pemuka masyarakat yang disebut Batin. Sistem pemerintahan disebut kebatinan.

            Pada tahun 1459 s/d 1477 Kerajaan Malaka diperintah oleh Sultan Mansyursyah, memperluas imperium kekuasaannya, termasuk wilayah petapahan yang pada waktu itu menonjol dalam bidang perdagangan. Hal ini sangat mempengaruhi kebatinan Senapelan sebagai suatu daerah yang baru berkembang.

            Kemudian pada tahun 1511, Portugis merebut Malaka dan berakhirlah kekuasaan Kerajaan Malaka terhadap daerah Petapahan dan daerah sekitarnya. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Kerajaan Gasib yang baru berdiri untuk mengambil alih Kebatinan Senapelan, Petapahan yang tidak terjangkau oleh Kerajaan Gasib, mengalami kemunduran dalam perdagangan, lantaran pintu keluarnya ditutup oleh Kerajaan Gasib sehingga para pedagang dari Limo Koto dan Minangkabau terpaksa mencari jalan lain, yang pada akhirnya lalu lintas perdagangan melalui route teratak buluh menuju Senapelan.

            Tidak lama kemudian Kerajaan Gasib dikalahkan Aceh. Pusat Kerajaan Malaka beralih ke Johor dari Riau. Kerajaan Johor menempatkan raja mudanya di Siak, tetapi kemudian Raja muda ini dihapus dan digantikan oleh putranya yang kedua bernama Syah Bandar. Syah Bandar yang ditempatkan di Bengkalis, Rokan, Sabak, Aur dan Senapelan. Tahun 1722 raja kecil mendirikan Kerajaan Siak di Buantan yang terlepas dari Kerajaan Johor, dan dalam usaha memperluas wilayahnya, maka Kerajaan Siak melakukan semacam ekspansi ke daerah sekitarnya, termasuk daerah Senapelan. Raja kecil tersebut bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah (1722-1746).

            Perkembangan Senapelan selanjutnya sejalan dan berhubungan erat dengan perkembangan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Tahun demi tahun berganti seperti arus air yang tak mengenal lelah. Kerajaan Siak Sri Indrapura tetap bertahan sekalipun banyak mengalami pertentangan dalam Kerajaan karena hasutan dari Belanda.

            Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah atau Raja kecil merupakan Sultan Siak Sri Indrapura yang pertama, beliau digantikan oleh putranya yang ke-2 bernama Tengku Buwang Asmara, dengan gelar Sultan Muhammad Abdul Jalil Muzafarsyah (1746-1760). Sedangkan saudara tuanya Raja Alam menyingkir ke Johor bertahun-tahun. Kemudian oleh karena hasutan Belanda maka Raja Alam menyerang Kerajaan Siak, sedangkan di Kerajaan Siak telah terjadi pergantian kekuasaan dari Sultan Muhammad Abdul Jalil Muzafarsyah kepada putranya yaitu Sultan Ismail Jalaludinsyah (1760-1761) dan ketika pasukan Raja Alam dan Belanda menyerang Sultan Ismail Jalaludinsyah melakukan perlawanan yang cukup sengit, tetapi pada akhirnya Sultan Ismail menyerahkan tahtanya setelah mengetahui bahwa yang menyerangnya adalah Pamannya sendiri, kemudian Sultan Ismail Jalaludinsyah mengundurkan diri ke Pelalawan dan kemudian ke Langkat dan Batu Bara (Sumatera Utara).

            Raja Alam naik tahta dan bergelar Sultan Abdul Jalil Alamuddinsyah (1761-1766) karena Sultan Alamuddin merasa kurang bebas dengan adanya Belanda di dekatnya maka ia pergi mencari daerah baru ke wilayah Senapelan kemudian ia pindah dan menetap di Bukit Senapelan, tidak kembali lagi ke Mempura (Siak Sri Indrapura).

            Dengan menetapnya Sultan Abdul Jalil Alamuddinsyah di Senapelan, maka Senapelan mengalami era baru, dalam perkembangannya, sebab dengan sendirinya Senapelan menjadi pusat Kerajaan Siak. Sultan Alamuddinsyah melihat jalur perdagangan melalui Sungai Siak ke Petapahan begitu baik, sehingga menimbulkan gagasan untuk memotong jalur perniagaan tersebut dengan membuat PEKAN (sejenis pasar yang kegiatannya dilakukan pada hari-hari tertentu dan satu kali dalam seminggu). Tetapi tidak lama kemudian Sultan Jalil Alamuddinsyah mangkat dan digantikan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazamsyah (1766-1779). Beliau dimakamkan di kampung bukit di samping Mesjid Raya sekarang, Almarhum diberi gelar “Marhum Pekan”.

            Pusat Kerajaan Siak tetap berkedudukan di Senapelan, sedangkan ibu kota yang lama yaitu Mempura tinggal tanpa penguasanya yang bertanggung jawab, kesempatan ini digunakan oleh Sultan Ismail yang menyingkir ke Batu Bara untuk kembali ke Mempura dan mengangkat dirinya kembali menjadi Sultan Siak untuk kedua kalinya (1779-1781). Setelah itu ia melakukan penyerangan terhadap Sultan Ali di Senapelan. Sultan Muhammad Ali menyerahkan tahta dan diangkat sebagai Raja Muda mendampingi Sultan Ismail.

            Pada tahun 1781, Sultan Ismail Jalaluddinsyah mangkat dan digantikan oleh Putranya yang bernama Tengku Sulung dan bergelar Sultan Yahya Abdul Jalil Muzafarsyah (1781-1784). Pada masa ini penguasaan terhadap Senapelan diserahkan kepada Wakil Datuk Empat Suku yaitu Wakil Suku Limapuluh, Pesisir, Tanah Datar dan Kampar.

            Dalam tahun 1784, Raja Muda Muhammad Ali kembali ke Senapelan dan meneruskan cita-cita ayahandanya almarhum Sultan Alamuddinsyah. Usaha Raja Muda Muhammad Ali untuk menghidupkan kembali Pekan di Senapelan tidaklah dapat dilaksanakan dalam waktu yang cepat tetapi dengan kegigihannya dapat juga ia mendirikan tempat berpekan namun tidak lagi ditempat pekan yang didirikannya oleh ayahandanya tetapi ditempat yang baru, yaitu sekitar pelabuhan Pekanbaru sekarang.

            Menurut catatan almarhum Imam Suhil Siak, pekan yang baru tersebut didirikan pada tanggal 21 Rajab hari selasa tahun 1204 hijriah dan bersamaan dengan 23 Juni 1784 Masehi. Dengan bertitik tolak pada tanggal hari bulan itulah sebutan Senapelan ditinggalkan dan mulai populer dengan sebutan Pekan yang Baru dan pada tanggal itu jugalah lahirnya Kota Pekanbaru. Dengan demikian jelaslah bahwa yang mendirikan Pekanbaru adalah Raja Muda Muhammad Ali dibawah Pemerintahan Sultan Yahya Abdul Jalil Muzafarsyah.

            Sejak dari berdirinya Pekanbaru telah mengalami berbagai bentuk pemerintahan maupun batas wilayahnya. Pekanbaru pada mulanya berada di bawah kesultanan Siak, kemudian pindah ke tangan penjajah Belanda, selanjutnya penjajah Jepang dan akhirnya berada di bawah kedaulatan NKRI.

            Dengan penetapan Gubernur Sumatera Utara di medan tanggal 17 Mei 1946 no 103, Kota Pekanbaru di jadikan daerah otonomi yang disebut HAMINTE atau Kota B tanggal 17 inilah yang dijadikan tanggal hari jadi kotamadya Pekanbaru sampai saat ini.

            Kemudian, dengan keputusan menteri dalam negeri tanggal 20 Januari 1959 no. 52/1/44-25, tentang penetapan kota Pekanbaru sebagai ibu kota Provinsi Riau, maka Pekanbaru memperoleh status kotamadya.

*Dikutip dari Buku Cetak Bahasa Melayu Riau Tingkat SMP

 

Nama   : Tekla Shintauli Lorentina

Npm    : 27211068

Kelas   : 2EB01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s