Ketidakadilan Dalam Penegakan Hukum di Indonesia

Image

Keadaan hukum di Indonesia sangat memprihatinkan karena orang yang berkuasa adalah orang – orang yang kuat sehingga mereka bisa menjadi pemenang dalam suatu kasus. Hukum bisa dibeli oleh mereka-mereka yang mempunyai uang banyak. Misalnya saja orang kuat vs orang lemah, seandainya orang yang lemah benar seharusnya dia adalah pemenang tapi karena orang yang kuat memiliki segala sesuatunya dia bisa menjadi pemenang dalam kasus tersebut sehingga orang yang seharusnya benar malah dia yang mendapat hukuman. Aparat penegak hukum sepertinya sudah benar-benar tak peduli lagi dengan keadilan warga negara. Mereka hanya bisa marah saat berhadapan dengan orang kecil, tetapi seketika nyali menciut saat berurusan dengan para petinggi. Segala macam kritik masyarakat hanya masuk kuping kanan, lalu keluar kuping kiri. Disini saya akan membandingkan cara penyelesaian kasus –kasus hukum di Indonesia dimana adanya ketidakadilan dalam penegakan hukum.

Kasus 1 “mengenai razia”

Yang sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, contoh kecilnya ketika sedang ada razia kendaraan meliputi razia STNK, Helm, Forbiden dan sebagainya yang mana hal-hal tersebut sebenarnya sudah diatur dalam UUD ’45 dan terdapat sanksi jika melanggarnya namun hanya karena uang semua bisa beres seketika tanpa harus ikut sidang ataupun mengikuti sanksi yang seharusnya, hal tersebut merupakan penyimpangan dalam penegakan hukum. Nah kesalahan ini merupakan kesalahan siapa ? Kesalahan ini merupakan kurangnya kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam penegakan hukum, selain itu aparat penegak hukum disini juga salah karena tidak bersikap tegas terhadap pelanggarnya.

Kasus 2 “Kisah sepasang sandal jepit seorang BRIPTU”

Selain itu terdapat juga kisah yang tidak asing lagi ditelinga kita yaitu kisah sepasang sandal jepit. Sepasang sandal jepit milik seorang BRIPTU yang dicuri siswa SMK berusia 15 tahun. Akibat pencuriannya siswa itu mendapat hukuman selama 5 tahun. Coba kita bayangkan hanya karena mencuri sandal jepit siswa itu mendapat hukuman 5 tahun, bukankah hal itu tidak adil? Sekarang kita bandingkan dengan para pejabat-pejabat tinggi yang mengkorupsi uang rakyat sampai miliyaran bahkan triliunan saja hanya mendapat hukuman ringan yang spesial dengan segala fasilitas yang diberikan. Rakyat kecil yang hanya mencuri sandal jepit yang harganya sekitar Rp. 10.000 dikenakan ancaman hukuman selama 5 tahun, sungguh ironis memang negeri kita tercinta ini, seharusnya hukum bisa menjadi sebuah sandaran bagi rakyat kecil tapi sebaliknya hukum malah mencekik rakyat kecil.

Kasus 3 “Penanganan kasus kecelakaan maut mahasiswi Universitas Indonesia”

Kasus loncatnya mahasiswi Universitas Indonesia Annisa Azward yang lompat dari angkot. Dalam kasus ini Annisa adalah korban, dan sopir angkot, Jamal bin Samsuri memang harus diperiksa. Tetapi yang mengherankan adalah soal penahanan. Sejak kejadian Rabu (6/2), Jamal langsung ditahan di Unit Lantas Daan Mogot, Jakarta Barat. Hasil pemeriksaan belum ditemukan adanya unsur kriminalitas, seperti percobaan perampokan, pemerkosaan dan penculikan. Dugaan sementara mahasiswi semester empat itu nekat loncat karena ketakutan.

Kini polisi sudah menetapkan Jamal sebagai tersangka, dengan dijerat pasal 359, tentang kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. Selain itu, Jamal juga bisa dijerat dengan UU Lalu Lintas karena membawa angkot di luar trayek. Pada kasus ini polisi terkesan bergerak cepat dalam penanganan kasus.

Kasus 4 “Kecelakaan maut antara anak menteri dengan masyarakat”

Jika menengok kasus Jamal tentu tak seberat dengan Rasyid. Putra bungsu Hatta Radjasa itu pada 1 Januari silam, mengemudikan mobil BMW dengan kecepatan tinggi lalu menabrak mobil Luxio di Tol Jagorawi. Dalam kecelakaan tersebut dua orang meninggal. Dalam kasus ini polisi tidak berani terbuka soal kecelakaan maut BMW tersebut. Memang Rasyid sudah menjadi tersangka, tapi diistimewakan. Rasyid dijerat pasal 283, 287 dan 310 UU Lalu Lintas No 22 Tahun 2009, dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara.

Setelah kejadian, polisi tidak menahan pria yang menimba ilmu di London, Inggris itu dengan alasan trauma, dan pihak keluarga memberi jaminan Rasyid akan kooperatif. Ternyata Rasyid kembali mendapat perlakuan khusus. Saat pelimpahan berkas tahap kedua dari Polda Metro Jaya ke Kejaksaan Negeri Jakarta Timur, Rasyid tidak ditahan.

Kasus ini hampir mirip dengan kejadian naas pada Minggu tanggal 22/1/2012 yang kita kenal “Kecelakaan Maut Tugu Tani” dimana Polisi menetapkan Apriani sebagai tersangka dalam kecelakaan maut yang menewaskan 9 orang itu. Apriani ditahan di Polda Metro Jaya. Sedangkan tiga rekannya masih berstatus sebagai saksi. Pada kasus Apriani ini penanganan dijalakan sesuai hukum pada saat kejadian berlangsung tersangka langsung ditahan dan ditindak lanjuti. Namun berbeda kejadiannya ketika seorang anak menteri yang melakukan tindakan Kriminal, aparat penegak hukum tidak berani bersikap tegas dalam penanganan kasus, malah yang ada mereka diperlakukan secara khusus.

Hukum adalah hukum dan harus ditegakkan secara sama tanpa ada diskriminasi untuk semua warga negara. Proteksi hukum terhadap tersangka yang dalam kondisi fisik ataupun psikis rawan sebagaimana dinikmati Rasyid kiranya juga harus dapat dinikmati warga negara lain yang berada pada kondisi serupa, tanpa harus terlebih dahulu melihat apa, siapa, dan bagaimana status sosial tersangka/ terdakwa.

Masyarakat menginginkan peradilan yang fair, tidak berpihak, dan menginginkan keputusan hukum berlaku sama, bukannya fasilitatif dan penuh permakluman kepada orang yang berpunya, sementara menjadi teramat represif terhadap orang yang biasa.

Rasyid Rajasa dan Apriani adalah contoh nyata dari perlakuan hukum yang tak adil dan diskriminatif.

 

Nama   : Tekla Shintauli Lorentina

Npm    : 27211068

Kelas   : 2EB01

One thought on “Ketidakadilan Dalam Penegakan Hukum di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s