Dibalik kesedihan telah tersirat kebahagiaan part 2

        Setiap harinya, Radit selalu memikirkan gadis itu, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan gadis tersebut. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencari identitas gadis itu. Tanpa sengaja ketika Radit berjalan, ia menabrak gadis itu yang sedang membawa buku yang banyak untuk diantarkan ke salah satu ruangan guru. Entah mengapa saat itu Radit merasa bersalah kepada gadis cantik itu karena telah membuat buku yang dibawanya menjadi berceceran. Dengan segera ia meminta maaf kepada gadis itu, lalu menolongnya membawakan ke ruangan guru. Ternyata buku-buku itu harus diantarkan keruangan Bu Siska.

         Tanpa membuang-buang waktu, mereka pun mengantarkan buku-buku itu keruangan bu siska. Mengambil kesempatan dalam kesempitan, Radit mengajaknya berkenalan. Ternyata gadis itu bernama Rere. Sesampainya disana, Bu Siska sangat keheranan melihat Radit mau membantu Rere membawakan buku itu keruangannya. padahal setau Bu Siska, Radit tidak pernah mau membantu orang lain, sikapnya jutek dan angkuh.

          Keluar dari ruangan Bu Siska, tanpa basa-basi ia mengajak Rere ke kantin kebetulan waktu itu sedang jam istirahat. Mereka saling canda dan tawa yang membuat hari itu susah untuk dilupakan oleh Radit. Namun, perasan gembira itu tidak sama ketika ia sampai di rumah, seperti biasanya orang tua Radit sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga mereka menghiraukan salamnya ketika sampai dirumah. Radit tidak berkecil hati walaupun salamnya dihiraukan oleh kedua orang tuanya. Karna hari itu sungguh membuat Radit bahagia. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dengan Rere yaitu perasaan nyaman berada didekatnya.

        Walaupun mereka berbeda kelas, mereka selalu berdua seperti perangko. Baik didalam sekolah maupun diluar sekolah. Mereka hanya menyandang status sebagai teman. Rere dengan senang hati selalu membantu Radit mengerjakan tugas. Ia mengajarinya dan memberikan perhatian kepada Radit.

         Setelah berkenalan lebih dari 2 minggu lamanya, radit tidak pernah absen datang kerumahnya sampai teman-temannya pun terabaikan. Namun ia tetap menyempatkan dirinya sesekali berkumpul dengan kawannya untuk membeli obat terlarang itu dan menghisap rokok. Rere memang tidak tau apa yang terjadi dengan keadaan Radit karena ia tidak pernah cerita soal keluarganya.

          Yang Rere tau, Radit itu berasal dari keluarga yang baik-baik karena setiap harinya ia mendapati Radit selalu tersenyum seolah-olah tidak ada masalah yang sedang dihadapinya. Tapi kenyataan itu berbalik arah, Rere salah menilai Radit ketika ia mendapati Radit yang sedang menghisap rokok dibelakang sekolah padahal waktu itu masih jam pelajaran. Rupanya Radit bolos, dari situ Rere kecewa dengan Radit. Ia tak pernah lagi ingin bertemu Radit. Setiap Radit menemui Rere, ia selalu menghindarkan dirinya karena ia tidak suka dengan cowok perokok.

         Radit merasa kehilangan sosok Rere yang selama ini dekat dengan dirinya. Ditambah lagi dengan isi rumahnya yang selalu perang membuat ia bertambah frustasi. Radit pergi kerumah salah satu kawannya yang tinggal disebuah kos-kos an yang lumayan jauh dari rumahnya tapi dekat dengan sekolahnya. Untuk sementara waktu, ia meminta izin untuk tinggal beberapa hari disitu. Ia meminta kepada kawannya untuk membelikan obat tersebut karena ia tidak kuat lagi menahan sakit kepala yang dideranya itu. Kawannya tidak bisa berbuat apa-apa melihat kondisi Radit yang memakai obat itu secara berlebihan. Padahal sebelumnya, kawan radit telah memberitahu kepadanya untuk tidak meminum obat tersebut secara berlebihan. Perkataan kawannya tersebut dihiraukan karena ia merasakan sakit yang cukup membuatnya tertekan.

         Sudah kurang lebih dari 2 minggu, Radit tidak masuk sekolah tanpa kabar. Setiap harinya yang ada difikirannya hanyalah Rere seseorang. Diam-diam rupanya Rere juga merasa kesepian tanpa senyum Radit yang menghiasi harinya. Ia pun mencari tau tentang Radit, ia mendengar berita bahwa Radit sudah 2 minggu tidak masuk sekolah sejak kejadian itu. Gadis cantik ini tidak putus asa, ia terus menggali informasi tentang Radit karena ia merasa bersalah telah menjauhi Radit. Ia telah mengetahui siapa-siapa saja teman dekat Radit.

          Ia pun memutuskan untuk menemui sekelompok cowok yang sedang duduk dipojok kantin tersebut kebetulan mereka adalah temannya Radit. Rere bisa dibilang mempunyai nyali yang besar untuk berbicara kepada mereka. Namun hasilnya sia-sia, ia hanya mendapatkan bentakan dari sekawanan tersebut. Rere tersentak mendengarnya. Air matanya terasa ingin jatuh namun ia mencoba menahannya. Setiap harinya ia terus berusaha untuk menemui kawan-kawan Radit supaya mereka mau memberi tahu bagaimana keadaan Radit saat ini.

         Ternyata usaha Rere tidak sia-sia selama ini, teman-teman Radit akhirnya luluh untuk memberi tau kepada Rere karena mereka juga tau bahwa saat itu hanya Rere yang bisa bantu Radit untuk segera sembuh.

         Tepatnya hari sabtu, sepulang sekolah teman-teman Radit mengajak Rere untuk ke rumah salah satu kawannya. Dalam perjalanan, mereka bercerita soal radit kepada Rere. Mereka merasa bersalah karena telah membuat Radit terjerumus menggunakan barang haram itu.

         Sesampainya disana ia melihat Radit begitu lemah dengan wajahnya yang begitu pucat, ia duduk disebuah sofa dengan pandangan kosong. Rere pun menjatuhkan air mata dipipinya. Rere pun duduk disampingnya dan menyapanya, “Hai…”. Radit pun segera menghadapkan wajahnya kepada Rere, ia memeluk Rere dan menjatuhkan air matanya dalam pelukannya. Seketika pelukannya terlepas dari tubuh Rere. Rere terkejut, kenapa pelukannya terlepas, ia merasa ada yang aneh, ia melihat Radit seolah-olah tidak bernyawa lagi. Lalu ia memeriksa denyut nadi Radit. Denyut nadinya masih berjalan, ia memanggil teman-temannya untuk membawa Radit ke rumah sakit supaya ia terselamatkan. Dengan deraian air mata, Rere memangku Radit saat dalam perjalanan.

         Untung saja nyawa Radit masih bisa terselamatkan begitu kata dokter yang memeriksa Radit. Ternyata Radit sudah kebanyakan memakai obat terlarang itu. Namun racun-racun yang ada ditubuh Radit telah diberi suntikan untuk penetralisir supaya tidak membahayakan dirinya. Sementara Radit yang belum juga sadarkan diri. Teman-temannya dan Rere pergi ke rumah Radit untuk memberi tau kabar itu kepada orang tuanya. Ketika di rumah Radit, mereka melihat kedua orang tuanya sedang ribut. Rere berteriak yang membuat kedua orang tua Radit menjadi diam sejenak. Kemudian Rere berusaha menjelaskan kepada kedua orang tua Radit tentang kondisi Radit saat ini.

         Rere bertambah nangis melihat kedua orang tua Radit yang benar-benar tidak memperdulikannya sama sekali. Masih sempatnya juga kedua orang tua Radit bertengkar saling tuduh menuduh soal Radit masuk rumah sakit. Dari situ Rere mencoba sadarkan kedua orang tuanya untuk tidak melupakan Radit walaupun sesibuk-sibuknya mereka bekerja. Mereka pun pergi ke rumah sakit, lalu menuju keruangan tempat Radit dirawat. Masih sama seperti tadi, ia belum sadarkan diri. Hanya rasa penyesalan yang terdapat didalam diri kedua orang tua Radit. Nasi telah menjadi bubur. Mulai hari itu kedua orang tuanya membuat kesepakatan untuk lebih memerhatikan Radit.

          Sudah seminggu lamanya, Radit belum juga sadarkan diri. Tapi gadis ini tidak pernah lelah untuk menunggu ia bangun dari tidurnya. Walapun sesibuk-sibuknya, ia masih saja menyempatkan dirinya untuk menjenguk Radit. Karena ia ingin, di saat nanti ketika ia terbangun, orang yang dilihat selain orang tuanya adalah Rere. Gadis ini begitu menyayangi Radit walau bagaimanapun keadaannya, ia masih tetap setia untuk menunggunya terbangun.

         Menunggu sesuatu itu memang adalah hal yang tersulit tapi jika kita tunggu dengan sabar niscaya semua itu pasti akan terjadi kalau disertai dengan doa. Itulah yang dilakukan oleh gadis cantik ini. Tapi tidak sia-sia yang ia lakukan karena akhirnya Radit bangun dari tidurnya. Sejenak air mata kesedihan Rere berubah menjadi air mata kebahagiaan. Ketika Radit membuka mata ia melihat kedua orang tuanya, teman-temannya dan Rere ada didalam ruangan itu. Radit merasa bahagia karena di temani oleh orang-orang yang ia sayangi. Sejak kejadian itu, orang tuanya lebih memerhatikan Radit dan Rere telah menjadi miliknya. Radit pun kembali menjalani harinya yang lebih baik daripada kemarin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s