Dibalik Kesedihan Telah Tersirat Kebahagiaan part 1

         Di hari ini awan mendung dengan kelembabannya menyelimuti langit biru, menebarkan hujan yang banyak dan deras seperti itulah perasaan Radit yang tak pernah merasakan kasih sayang dari orang tuanya. Ia terlahir dari keluarga yang berada. Setiap harinya, orang tua Radit tidak pernah memikirkan anaknya. Dari kecil, ia selalu diurus oleh seseorang yang dipercayakan orang tuanya untuk bekerja di rumahnya dan mengurus Radit. Yang ada dalam fikiran orang tuanya hanya kemewahan.

          Setiap harinya didalam keluarga Radit selalu terjadi angin ribut, “tiada hari tanpa pertengkaran”. Hal itulah yang terkadang membuat dia gila dengan ulah kedua orang tuanya yang selalu bertengkar.

        “Diiiaaaaaammm….!” teriak Radit saat melihat kedua orang tuanya bertengkar yang ingin membuat kepala Radit terasa ingin pecah.

           Kemudian orang tuanya pun tercengang mendengar teriakan Radit dari luar pintu kamar mereka. Secepat mungkin ia berlari ke garasi untuk mengambil kendaraan beroda dua miliknya, dan membawanya pergi. Tak sempat kedua orang tuanya mengejar Radit karena ia membawa motornya dengan kencang selayaknya seorang pembalap. Kemudian kedua orang tuanya melanjutkan perdebatan itu, entah apa yang mereka ributkan, sampai setiap harinya tiada hentinya dengan ribut.

          “Lihat itu anak kamu, langsung kabur aja. Bawa motor gak karuan, makanya jangan kerja melulu, tugas mu itu di rumah, mendidik anak biar tidak kurang ajar seperti itu” tutur papa Radit ke mamanya.

         “Eh… Pa, sekarang udah zaman emansipasi wanita yah, wanita udah bisa berkarya sekarang bukan hanya untuk dirumah aja, anak itu tanggung jawab kita berdualah, bukan hanya aku saja” tegas mama Radit.

          Mereka berdebat tiada hentinya. Sementara Radit yang berada di luar rumah, tak karuan entah seperti apa. Radit mempunyai teman-teman yang bisa menghibur dia. Tapi hari itu, teman-temannya melihat ia seperti orang yang sudah tidak ada kehidupan saat ia berkumpul dengan kawan-kawannya.  Mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Radit, karena setiap ditanya, Radit menjawab, “itu bukan urusan kalian !, aku gak apa-apa kok”. Beberapa menit kemudian, temannya menyodorkan sesuatu kepada Radit berbentuk pil entah apa itu. Temannya berkata, “ Ini Dit, minum aja pil ini, biar sedikit have fun, kalau kami-kami punya masalah, kami sering memakai barang ini supaya ngerasa have fun lagi deh”. Kemudian Radit pun mengambil pil itu dan meminumnya, pil tersebut cepat bereaksi, “Hmmm… benar kalian sekarang aku ngerasa gak punya beban lagi” kata Radit kepada kawannya.

         Sekelompok sekawanan tersebut pun pergi hang out bersama mengelilingi kota dengan matahari yang tidak terlalu terang cahayanya. Sore harinya, mereka pulang kerumah masing-masing untuk membersihkan diri. Malam pun tiba, mereka berkumpul di suatu tempat, dimana tempat itu merupakan tempat nongkrong segerombolan cowok yang nakal ini. Di cafe menachavion tepatnya sekawanan ini berkumpul. Diantara mereka hanya Radit yang tidak merokok ataupun memakai barang haram yang tak mesti di pakai. Sekalipun Radit mempunyai segudang kepedihan didalam keluarganya, ia tak pernah memakai barang itu.

          Tapi hari itu ia memakai sebuah pil yang katanya bisa membuat orang terasa tenang dan melayang, serasa tak ada permasalahan yang terjadi. Kejadian paling terhebat yang pernah terjadi dirumahnya hari itu membuat ia memakai barang haram yang telah diperkenalkan oleh teman-temannya. Namun malam itu juga di hari yang sama, Radit bertanya kepada salah satu temannya dimana pil tersebut bisa ia dapatkan. Kemudian teman Radit menelepon seseorang untuk membawakan pil tersebut ke tempat nongkrong mereka saat itu. Terjadilah transaksi pembelian pil tersebut, walaupun sempat terjadi perdebatan soal tawar-menawar harga.

         Tak berapa lama kemudian, sekelompok geng ini pulang karena esoknya mereka harus pergi sekolah. Sebenarnya mereka juga gak ada gunanya pergi sekolah. Toh mereka juga gak belajar, pelajaran pun gak pernah ada yang masuk didalam otaknya, yang ada geng ini hanya membuat keonaran setiap harinya di sekolah, gak penah absen dari yang namanya ruang BK.

          Pagi hari suasana di rumah Radit terasa sepi, sunyi seakan tak ada kehidupan, namun tak berapa lama kemudian seperti ada batu yang jatuh dikepala Radit. Keributan pun mulai terjadi lagi dirumah itu. Dengan langkah yang tergesa-gesa ia pun bergegas mengambil kendaraannya untuk berangkat ke sekolah, supaya ia tak mendengar percekcokan yang terjadi antara kedua orang tuanya.

          Setibanya di sekolah, bel pun berbunyi. Dengan santainya radit berjalan tanpa memikirkan bahwa jam pertama hari itu ada Bu Siska yang terkenal galaknya dan disiplin. Ia tetap berjalan dan setibanya di kelas, ia pun masuk serasa tak ada orang didalamnya sedangkan Bu siska sudah kesal melihat radit yang masuk kelas tanpa ada sopan santun. Tiba-tiba Bu Siska berteriak hingga kaca-kaca ingin terasa pecah…

          “ Radiiiiiiitttt….” teriak Bu Siska. Radit seolah-olah tak mendengar teriakan itu, memang benar kebetulan saat itu ia juga sedang memakai hadseat dengan suara lagu yang keras hingga membuat ia tak mendengar suara Bu Siska yang merdu itu.

         Dengan kesalnya Bu Siska kepada Radit, ia pun menghampiri meja radit dan menghentakkan mejanya yang membuat isi kelas serasa jantung mau copot. Kemudian Bu Siska melepas hadseat yang berada di telinga Radit.

         “Hei Radit, apa-apaan sih kamu, masuk kelas nyolonong aja, gak ada sopan santun, apa gak pernah orang tua kamu mengajarkan sopan santun sejak kecil kepada mu ?” tanya Bu Siska.

         “Ibu tanya aja sendiri kepada orang tua saya “ jawab Radit dengan santainya.

         “Dasar kamu ini, sekarang silahkan kamu keluar dari ruangan ini sampai habis jam mata pelajaran ibu dan sesudah itu jam istirahat kamu datang keruangan saya ! “ tegas Bu Siska.

         Tanpa basa-basi, Radit pun keluar kelas dengan gayanya seolah-olah tak punya masalah. Bu Siska yang berada dekatnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap anak tersebut. Kemudian Bu Siska melanjutkan mengajar.

         Di tengah kesibukan Bu Siska memeriksa tugas siswa-siswinya, ia dikejutkan dengan kedatangan Radit yang tiba-tiba ada di depannya. Ia masuk ke ruangan Bu Siska sama halnya seperti ia masuk kelas tadi. Bu Siska menghentikan sejenak pekerjaannya itu, dan mulai bertanya soal sikap Radit tadi di kelas. Namun Radit, hanya diam mendengarkan ocehan Bu Siska, masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Kesabaran Bu Siska sudah tak tertahankan melihat Radit yang sudah di ceramahi tapi tak juga mendengarnya.

        “Kali ini saya harus memanggil kedua orang tuamu, apa gak pernah kamu di ajarkan sopan santun dirumah ?” tanya bu siska

        “Memang tidak pernah di ajarkan bu, mereka itu hanya sibuk dengan urusan mencari uangnya itu, yang ada di otaknya hanya uang dan uang, jadi ibu tidak usah repot-repot memanggil orang tua saya karena mereka juga gak akan pernah ada waktu untuk urusan sekonyol seperti ini” jawab radit.

         Memang betul apa yang dikatakan Radit itu, karena sekalipun surat itu diberi, orang tuanya tidak akan pernah datang ke sekolah.

         “Ya sudah, saya tidak akan memanggil orang tua kamu asalkan kamu bisa mengurangi kenakalan mu  itu” tegas bu siska.

         “Baik bu, kalau gitu saya permisi keluar dulu bu” jawab radit.

         “Dasar anak zaman sekarang kerjanya melawan terus, gak ada sopan santun, yah gitu lah jadinya kalau anak tidak pernah di didik oleh orang tuanya sejak kecil, huft” desah bu siska dalam hati.

          Setelah keluar dari ruangan Bu Siska, Radit kembali ke kelas. Namun saat perjalanan terjadi kecelakaan kecil yang membuat dia marah. Saat itu ada seorang gadis cantik tanpa sengaja menabrak dia dengan tumpahan jus jeruk yang mengotori baju Radit. Ia pun marah-marah kepada gadis itu, padahal gadis ini telah meminta maaf karena tanpa sengaja menumpahkan jus di baju Radit. Tanpa basa-basi, Radit meninggalkan gadis itu untuk menuju ke toilet membersihkan bajunya dan kembali ke kelas. Di dalam kelas radit pun hanya terdiam dan melamun. Dalam lamunannya ia mengingat gadis cantik yang terlihat lugu itu. Sejenak ia tersentak dari lamunannya karena ada yang aneh dengan dirinya, mengapa gadis itu yang hadir saat Radit melamun.

          Satu hari telah berlalu dengan sia-sia. Radit pulang dan sesampainya di rumah, ia melihat kedua orang tuanya ada di rumah dengan kesibukan urusuan kantornya masing-masing. Radit pun masuk kamar dengan membanting pintu kamarnya.

           Seperti biasanya Radit pergi ke tempat nongkrongnya buat berkumpul dengan kawan-kawannya. Hingga larut malam, ia baru kembali ke rumah, namun didapatinya keadaan di rumah seperti biasanya. Ia segera masuk kamar dan menghancurkan isi kamarnya seperti kapal pecah, ia merasa tidak kuat dengan keadaan dirumahnya, kepalanya semakin pusing sehingga ia mengambil obat pil yang telah dibelinya. Sudah mulai terasa tenang setelah meminum obat itu, ia pun segera tidur.

         Keesokan paginya, di koridor sekolah, tanpa sengaja ia menabrak gadis itu lagi. Siapa yang menabrak juga, eh malah marah-marah. Daripada membuang waktu lama-lama, gadis itu yang meminta maaf kepada Radit. Kemudian ia meninggalkan Radit dan kembali menuju kelas. Radit tersenyum memandang gadis yang sedang berlalu dari hadapannya itu. Belum pernah ia merasakan perasaan seperti ini. Sebenarnya gadis itu siapa ya, tanya hati radit dengan penasaran…

bersambung ke part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s