Rangkuman Bab 4 “PENDAPATAN NASIONAL, PERTUMBUHAN DAN STRUKTUR EKONOMI”

Nama : TEKLA SHINTAULI LORENTINA

Kelas : 1EB12

Npm   : 27211068   

        Prestasi ekonomi suatu bangsa atau negara dapat dinilai dengan berbagai ukuran agregat diantaranya dengan ukuran besaran melihat pendapatan nasional yang berguna untuk menilai perkembangan ekonomi suatu negara dari waktu ke waktu dan membandingkannya dengan negara lain, selain itu diperoleh ukuran turunan (derived measures) seperti pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita.

1.1    Konsep – Konsep Pendapatan Nasional

Istilah pendapatan nasional bisa dilihat dari dua segi,

  • Dalam arti sempit : terjemahan langsung dari national income
  • Dalam arti luas : dapat merujuk ke Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross domestic Product (GDP), Produk Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product (GNP), Produk Nasional Neto (PNN) atau Net National Product (NNP), pendapatan nasional (PN) alias National Income (NI)

1.2    Metode Perhitungan Pendapatan Nasional

         Perhitungan pendapatan nasional Indonesia dimulai dengan Produk Domestik Bruto yang dapat dihitung dengan tiga macam pendekatan 1 pendekatan produksi 2 pendekatan pendapatan 3 pendekatan pengeluaran.

  1. Pendekatan produksi

        PDB adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu setahun. Unit-unit produksi tersebut dibagi menjadi 11 sektor :

  • Pertanian
  • Pertambangan dan penggalian
  • Industri pengolahan
  • Listrik,gas,dan air minum
  • Bangunan
  • Perdagangan
  • Pengangkutan dan komunikasi
  • Bank dan lembaga keuangan
  • Sewa rumah
  • Pemerintahan
  • Jasa-jasa

    2. Pendekatan Pendapatan

        PDB adalah jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang turut serta dalam proses produksi diwilayah suatu negara dalam jangka waktu setahun seperti upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan yang dihitung sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. Selain itu mencakup penyusutan dan pajak-pajak tak langsung neto. Jumlah semua komponen pendapatan per sektor ini disebut nilai tambah bruto sektoral.

    3. Pendekatan pengeluaran

PDB adalah jumlah seluruh komponen permintaan akhir.

 

PNB = PDB + pendapatan neto atas faktor luar negeri

 

Pendapatan neto atas faktor luar negeri

= pendapatan warga negara Indonesia diluar negeri – pendapatan warga negara asing di indonesia

 

PNN = PNB – penyusutan

PDB dan PNB serta PNN diatas termasuk dasar harga pasar karena masih mengandung unsur pajak tak langsung neto.

Pajak Tak Langsung Neto = pajak tak langsung – subsidi

 

PNN (harga pasar) – pajak tidak langsung = PNN (biaya faktor produksi

 

 PNN atas dasar biaya faktor produksi disebut dengan pendapatan nasional (national income).

1.3    Metode Penghitungan Pertumbuhan Riil

         PDB,PNB,PNN, dan PN secara umum disebut agregat ekonomi artinya angka besaran total yang menunjukkan prestasi ekonomi suatu negara atau negeri. Cara perhitungannya pertama harus dihilangkan pengaruh perubahan harga pada angka-angka agregat menurut harga berlaku (current prices) sehingga terbentuk angka agregat ekonomi menurut harga konstan (constant prices). Ada tiga metode untuk melakukan hal tersebut :

  • Metode revaluasi : menilai produksi masing-masing tahun menggunakan harga tahun tertentu yang dijadikan tahun dasar
  • Metode ekstrapolasi : memperbarui (updating) nilai tahun dasar sesuai dengan indeks produksi/tingkat pertumbuhan riil dari tahun sebelumnya
  • Metode deflasi : membagi nilai masing-masing tahun dengan harga relative yang sesuai ( indeks harga x 1/100)

1.4   Metode Penghitungan Nilai tambah

        Nilai tambah (added value) = nilai akhir (harga jual) produk – nilai bahan bakunya

Nilai tambah menurut harga berlaku yaitu nilai tambah yang dihitung menurut harga tahun yang berjalan.

Nilai tambah dapat dihitung menurut harga konstan dengan 4 cara:

  • Metode deflasi ganda : dilakukan jika keluaran (output) menurut harga konstan dihitung terpisah dari masukan-antara (intermediate-input) menurut harga konstan (selisih antara keluaran dan masukan-antara menurut harga konstan)
  • Metode ekstrapolasi langsung : dengan menggunakan perkiraan-perkiraan dari perhitungan keluaran menurut harga konstan/langsung menggunakan indeks produksi yang sesuai
  • Metode deflasi langsung : dengan menggunakan indeks harga implisit dari keluaran / secara langsung menggunakan indeks harga produksi yang sesuai kemudian dijadikan angka pembagi terhadap nilai tambah menurut harga yang berlaku.
  • Metode deflasi komponen pendapatan : dengan cara mendeflasikan komponen-komponen nilai tambah atas pendapatan yang membentuk unsur nilai tambah tersebut seperti pendapatan tenaga kerja, modal dan manajemen

1.5   Pendapatan Nasional dan Pertumbuhan Ekonomi

        Banyak faktor yang memungkinkan perekonomian Indonesia tumbuh sangat pesat dengan panjang kurun pembangunan jangka panjang tahap pertama yang lalu. Keberhasilan rehabilitasi sarana dan prasarana ekonomi pada masa peralihan 1966-1968 termasuk prestasi dalam bidang perbankan dan penanaman modal yang menjadi “bekal” utama. Bekal yang memantapkan dan merangsang kegiatan ekonomi ini semakin bagus manakala pada awal dasawarsa 1970-an Indonesia mendapat rejeki nomplok (bonanza) penerimaan minyak bumi akibat krisis Timur Tengah. Kendati pada awal proses pembangunan sempat terganjal oleh dampak resesi dunia namun kesigapan pemerintah meluncurkan berbagai kebijaksanaan deregulatif berhasil memulihkan situasi.

        Pemulihan situasi kala itu tak boleh dilupakan namun didukung pula oleh kemantapan ketersediaan pangan. Sejak tahun 1984 Indonesia mulai berswasembada pangan. Kebutuhan beras merupakan bahan pangan utama yang berhasil dipenuhi sendiri,

1.6  Pendapatan Per Kapita dan Kemiskinan

       Saat ini Indonesia masih tergolong sebagai negara berpendapatan menengah-bawah. Namun pendapatan perkapita tidak satu-satunya tolak ukur untuk menilai tingkat kemakmuran suatu bangsa. Tapi harus pula memperhatikan distribusi pendapatan itu dikalangan penduduk. Tolak ukur lainnya seperti angka harapan hidup, rasio dokter-penduduk, indeks mutu kehidupan secara fisik dan lain-lain.

        Tingkat kesejahteraan penduduk dapat pula dilihat melalui alokasi konsumsinya. Semakin sejahtera penduduk suatu negeri semakin kecil pengeluaran konsumsinya untuk pembelian bahan pangan. Masalah yang harus diperhatikan dimasa datang dalam pertumbuhan ekonomi adalah masih cukup besarnya jumlah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan. Guna mengurangi kemiskinan melalui program-program pembangunan untuk itu perlu diciptakan prakondisi yang mendukungnya.

1.7   Struktur Ekonomi Indonesia

Dapat dilihat dari 4 macam sudut tinjauan:

  • Tinjauan makro setoral : perekonomian yang berstruktur yang menjadi tulang punggung perekonomian
  • Tinjauan keruangan (spasial) : berstruktur kedesaan/tradisional dan berstruktur kekotaan/modern
  • Tinjauan penyelenggaraan kenegaraan : berstruktur etatis, egaliter, atau borjuis
  • Tinjauan birokrasi pengambilan keputusan : struktur ekonomi yang sentralistis dan desentralistis

Dua yang pertama disebut tinjauan ekonomi murni sedangkan duanya lagi disebut tinjauan politik

1.8    Tinjauan Makro-Sektoral (lapangan usaha)

        Salah satu contohnya sektor pertanian yang merupakan sektor utama sumber kehidupan rakyat dari segi penyerapan tenaga kerja yang bersifat dualistis. Sementara sektor industri pengolahan penyerapan tenaga kerja tidak sebanyak dari sektor pertanian. Tesis boeke seorang ekonom belanda mengatakan bahwa perekonomian Indonesia berstruktur dualistis, hanya saja dualisme yang berlangsung sekarang tidak sepenuhnya identik dengan dualisme yang dulu dikemukakannya.

        Jika ditinjau secara makro-sektoral ekonomi Indonesia masih dualistis akan tetapi penyumbang utama pendapatan nasional adalah sektor indusrti pengolahan. Semua itu berarti Indonesia baru bergeser dari struktur agraris ke struktur yang industrial.

1.9   Tinjauan Lain

        Dilihat dengan kacamata politik sejak awal orde baru hingga pertengahan dasawarsa 1980-an perekonomia Indonesia berstruktur etatis. Sementara ini Indonesia berstruktur borjuis. Berdasarkan tinjauan birokrasi pengambilan keputusan, Indonesia sedang menuju tahap pertama sentralistis yang terpelihara rapi karena sesuai dengan budaya/kultur masyarakat Indonesia yang paternalistik. Struktur ekonomi yang etatis dan sentralistis berkaitan erat yang sedang dilakukan proses panjang perjalanan pembangunan dimana peran/dukungan pemerintah sebagai agen pembangunan yang menjadikan etatis serta pemerintah pusat yang kuat yang menjadikannya sentralistis.

         Pembangunan ekonomi yang sengaja diarahkan keindustrialisasi mengurangi kadar agraritas struktur perekonomian karena hanya kaum pemodal dan pengusaha saja yang bisa berperan serta aktif. Struktur ekonomi yang tengah kita hadapi saat ini sesungguhnya merupakan struktur yang transisional.

2.0 Konsep-konsep Pendapatan Ditinjau Kembali, rumusnya :

Modified GDP = Conventioanl GDP – Environmental Cost

Atau

GDPmod = GDP – EC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s